Minggu, 06 Juli 2014

Menunggu

Hal baru. Itulah 2 kata yang amat teramat Bagas benci. Ya ! Ia sangat membenci hal baru. Baginya hal baru akan membuatnya melupakan kenangan lama. Membuatnya lupa akan segala hal
"Bagas, sini turun nak ! Ada tamu." Suruh Mamanya dari lantai bawah
"Hah ?! Tamu ? Siapa ?" Gumamnya dalam hati
Tap , tap, tap
Bagas menuruni anak tangga rumahnya. Berlangkah gontai menuju ruang tamu. Lagipula ini kan hari Minggu. Hari libur wajib bagi seluruh rakyat Indonesia. Kenapa masih ada saja yang menganggu hari liburnya ? Padahal hari liburnya ini hanya ada sekali dalam seminggu
"Nah, ini dia anak saya jeng. Namanya Bagas Rahman Dwi Saputra. Nah, Bagas inilah yang akan menjadi pendamping hidupmu nanti Cindai. Gimana ? Ganteng kan anak tante ?" Ujar Mama Bagas
"Pendamping hidup ? Halah, mungkin Mama hanya bercanda. Lagipula di umur 17 tahun ini, mana ada sih anak yang mau menikah muda ? Yang ingin cepat - cepat punya momongan seperti orang dewasa ?" Gumamnya dalam hati
Bagas menghiraukan perkataan Mamanya itu. Sesekali ia mencuri pandangan dengan gadis yang duduk tepat di depan Mamanya. Tapi, nihil. Bagas sama sekali tidak tertarik dengan gadis yang kini sedang menatap matanya. Cukup lama mata mereka bertemu, hingga kejadian manis itu terhancurkan oleh buyaran Mama Bagas.
"Hayo, kalian belum kenalan udah tatap - tatapan aja. Yaudah, sini mama kenalin. Bagas, ini Cindai. Anak dari Om Ferdi itu loh."
Gadis manis itu mengangkat tangannya. Mengajak untuk bersalaman. Bagas menatap matanya 'lagi' hingga akhirnya tangan kanannya menjabat tangan gadis itu. Gadis itu tersenyum manis.
"Em, gimana kalo kalian jalan - jalan dulu aja. Itung - itung sebagai perkenalan. Gimana ?" Ujar Mama Bagas
"Em, boleh - boleh. Sekalian aku pengen tahu lingkungan di sini tante." Ujar Cindai
"Hah ?! Gak ! Aku gak mau. Aku lagi capek." Ujar Bagas dingin
Nampak ke-kecewaan pada wajah gadis itu. Wajahnya yang jelas - jelas tadi bersemangat, sekarang menjadi lesu. Sambil sesekali mengambil nafas pendek. Bagas menatap kembali wajah Cindai. Ia dapat merasakan apa yang kini Cindai rasakan.
Ia sempat berfikir, sebegitu inginkah Cindai berjalan - jalan melihat komplek perumahannya ? Padahal tidak ada hal - hal yang menarik di kompleknya. Hanya perumahan yang mewah namun terkesan minimalis.
Melihat wajah kecewa gadis itu, Bagas menjadi tidak tega untuk menolak ajakan Mama
"Oke, aku mau. Tapi hanya sekedar jalan - jalan. Gak lebih." Ujar Bagas. Cindai yang mendengar Bagas berbicara seperti itu langsung kegirangan layaknya anak kecil
"Yeay !! Yaudah, yuk berangkat!" Ajak Cindai yang langsung pergi keluar rumah. Bagas mengikuti Cindai dari belakang. Sementara Mama Bagas hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah laku Cindai.
****
Menjelang sampai di rumah, Cindai dengan konyolnya mengajak Bagas untuk berlomba dengannya.
"Nah, bentar lagi kan nyampe rumah. Gue ngajak lo buat lomba lari. Siapa yang terakhir nyampe rumah, harus traktir es krim sepuasnya. Gimana ?" Tawarnya
Bagas hanya diam sambil melanjutkan langkahnya. Tak peduli dengan tawaran konyol Cindai.
"Okee, lo diem gue anggep lo setuju. Ready ? 1, 2, 3 !!" Cindai berlari sekencang mungkin
Sementara Bagas, dia hanya menggeleng heran karna tingkah laku Cindai. Bagaimana bisa di tahun se-modern sekarang masih ada orang sekonyol itu ?
Cindai menatap ke belakang. Mengecek sudah seberapa jauh dia meninggalkan Bagas. Dia kembali menengok ke depan. Menatap garis finisnya. Senyum kemenangan terukir di bibirnya. Membayangkan perutnya akan kenyang dengan muatan es krim mocca kesukaanya. Sedikit lagi ia sampai di 'garis finish'. Ia mempercepat langkahnya. Dan.....
BRUKKKK !!!
Ia terjatuh. Gadis ini meringis kesakitan. Luka pada lututnya mampu mengeluarkan darah segar yang cukup banyak. Bagas yang berada jauh di belakang Cindai, langsung berlari.
"Makanya jadi anak jangan sok tau. Gini kan akibatnya." Omel Bagas
"Duh, lo tuh bawel banget ya ! Udah tahu nih kaki sakit banget. Malah di omelin." Cindai memasang wajah sebal
"Mana sih yang sakit ?" Ujar Bagas
Cindai menunjukan letak kakinya yang sakit. Bagas memegang pelan kaki gadis itu
"Aw !! Gilak ya lo ?" Ujar Cindai sewot
"Duh, lo kasihan banget ya hidupnya. Udah jatuh, bedarah, keseleo pula. Yaudah, sini naik ke punggung gue. Biar gue anter lo sampe pulang." Bagas menghadapkan punggungnya ke depan Cindai.
Berniat menawarkan punggungnya sebagai 'kendaraan' bagi Cindai. Tapi gadis ini hanya terdiam. Tidak percaya dengan kejadian yang baru terjadi. Berpikir dalam hati apakah ini masih Bagas yang tadi ? Yang awalnya menolak untuk berjalan - jalan dengan Cindai ? Tapi kenapa dia jadi sebaik ini padanya ? Setan apa yang telah merasukinya ?
"Heh, malah bengong. Buru naik !" Suruhnya
Cindai pun naik ke punggung Bagas. Perlahan Bagas bangkit dan akhirnya berjalan. Baru beberapa meter berjalan, wajah Bagas sudah penuh dengan keringat yang bercucuran sana sini. Cindai dapat melihat wajah lelah lelaki itu. Dalam hati ia menaruh rasa iba pada lelaki yang sedang menggendongnya.
"Berat ya ? Kalo berat, gue gak papa kok di suruh jalan pun." Ujar Cindai
Bagas menggeleng, "Kaki lo itu lagi sakit. Belum kuat buat jalan. Jadi, gue gak akan tega nyuruh lo buat jalan dengan keadaan kayak itu. Udah deh, lo diem aja. Bentar lagi kita sampai kok." Ujar Bagas
Cindai mengambil sapu tangan ungu mudanya. Perlahan ia mengelap keringat yang bercucuran pada wajah lelaki tampan itu. Bagas berhenti sebentar ketika mendapati perlakuan dari Cindai.
"Gue gak tega ngeliat lo keringetan kayak gini. Kalo lo emang capek, kita bisa kok istirahat sebentar." Tawar Cindai
"Haha, lo gilak ya ? 10 langkah lagi kita nyampe dan lo nyuruh gue buat istirahat ? Iya, gue bakal istirahat ! Tapi di rumah."
"Lo gak usah maksain diri lo deh."
"Hanya orang bodoh yang mau berhenti saat garis finish berada tepat di depan mata." Ujar Bagas
Lalu dia kembali melanjutkan langkahnya. Setelah sampai di rumah, Bagas langsung mendudukan Cindai di sofa. Ia langsung pergi tanpa adanya sepatah kata apa pun
*****
Hari ke hari hubungan Bagas dan Cindai semakin dekat. Bahkan tersiar kabar bahwa Bagas akan melamar Cindai malam ini
Bagas mengajak Cindai ke suatu taman yang tak jauh dari rumahnya. Ia sengaja memilih tempat itu. Karena di taman itulah Bagas menggendong Cindai. Dan akhirnya timbul rasa pada dirinya
Lampu taman yang sudah berjajar rapi menemani mereka berdua. Ditambah ribuan bintang berkeliaran di langit membuat kesan romantis tercipta dengan sempurna. Suara jangkrik risau menemani
"Gas, lo ngapain ngajak gue kesini ?"
"Em, jadi gini. Gue pengen ngomong sesuatu sama lo."
"Yaudah, ngomong aja." Cindai menatap mata Bagas lekat. Nampak kegugupan ada pada diri lelaki di hadapannya
"Sebenernya..." Bagas menggantungkan kalimatnya.
Cindai menaikan salah satu alisnya. Penasaran dengan lanjutan kalimat Bagas
"Gini, kita kan udah lama saling kenal. Orang tua kita juga udah akrab banget. Gue pengen kita ke jenjang yang lebih serius tanpa adanya kata pacaran." Ujar Bagas
"Maksudnya ?" Cindai memasang wajah bingungnya
"Gue pengen ngelamar lo. Lo mau gak terima lamaran gue ?" Bagas to the poin
"Hah ?! Eh, tapi..." Cindai menggantungkan kalimatnya
"Tapi kenapa ? Lo gak cinta sama gue ? Atau gue gak sempurna ?"
"Bukan. Gue cinta kok sama lo. Dan bagi gue lo lebih dari sempurna malah. Cuman ada satu hal yang maksain gue buat nolak lo."
JLEB!
Bagai balon yang terbang tinggi, tiba-tiba harus pecah karena panas terik matahari. Hati Bagas benar - benar hancur ketika mendengar kalimat terakhir Cindai. Senyumnya sempat terukir di awal kalimat Cindai. Hanya di awal
"Tapi kenapa ?"
"Gue gak bisa jelasin sekarang. Yang jelas, gue gak bisa terima lamaran lo. Maafin gue, Gas." Cindai berlari meninggalkan Bagas sendirian
*****
"Cindai."
3 menit, 5 menit, hingga akhirnya 10 menit telah berlalu, batang hidung Cindai belum juga terlihat. Sampai akhirnya, keluarlah perempuan paruh baya yang sangat Bagas kenali
"Eh, nak Bagas. Masuk sini!" Ajak Mama Cindai
"Eh, gak usah tante. Cindainya ada ? Aku mau berangkat bareng sama dia." Jelas Bagas sopan
"Looh, tapi Cindai udah berangkat dari 20 menit yang lalu. Kok dia gak bilang ya sama tante kalo kamu mau anter dia ke sekolah ? Kalo gitu tante bisa nyuruh dia nungguin kamu."
Bagas melirik jam tangannya sebentar, "Ooh, gitu tante. Yaudah, aku berangkat dulu ya tante. Salam buat om." Bagas mengecup punggung tangan Mama Cindai. Sedikit tergesa menaiki motor ninjanya. Dan dalam sekejap motor itu sudah melesat di pekarang rumah Cindai
"Sekarang kan masih jam 6. Gak mungkin Cindai berangkat jam setengah 6. Setahu gue dia gak ada kegiatan ekskul kok. Kenapa ya akhir - akhir ini Cindai sering ngehindar dari gue ? Apa karna kejadian waktu itu ? Kalo emang itu penyebabnya, gue nyesel udah bikin hubungan kita kayak gini. Gue lebih milih kita sahabatan tapi kita tetep dekat, Ndai. Gak ada jarak kayak gini."

*****
"Gas, aku pengen bicara sama kamu. Kita ketemuan di taman nanti jam 4 sore." Ujar Cindai tiba - tiba
"Hah ? I..ya, Ndai. Gue tunggu lo." Senyum Bagas mengembang. Hatinya merasakan bahagia yang luar biasa
*****
Bagas melirik jam tangannya. Pukul 15.30. Ia harus segera menuju ke taman. Untuk bertemu Cindai. Sebenarnya ia masih bingung apa yang membuat Cindai memintanya untuk bertemu. Tapi, ya sudahlah. Toh, yang penting mereka bisa berduaan lagi '-'
"Gas, mau kemana ?" Tanya Aldi sahabat karibnya
"Em, mau pulang."
"Hah ? Pulang ? Enak aja lo. Latihan basket dulu. Pertandingan bulan depan lo."
Bagas menepuk jidatnya kesal. Bagaimana dia bisa lupa dengan jadwal latihan basketnya ?
"Ett, tapi gue ada urusan penting. Berhubungan dengan hidup dan mati." Ujar Bagas gelagapan
"Tunda dulu kali. Sebulan lagi loh. Lo mau kejuaraan yang udah kita menangin selama 5 tahun berturut- turut, di ambil sama SMA lain ?"
"Tapi.."
"Ayolah. Demi SMA Citra Abadi."
"Okee. Tapi gue cuman punya waktu 20 menit. Selebih itu, gue harus pergi." Bagas menaruh kembali tas sekolahnya. Berjalan menuju kamar mandi, untuk mengganti seragamnya.
*****
Pukul 16.30
Seorang gadis masih setia menunggu seseorang untuk menemuinya di taman ini. Tercatat sudah 15 kali dia menelfon tapi tak pernah di angkat. Gadis itu juga sudah 30 kali meng-sms namun tak kunjung di balas. Ia memutuskan untuk tetap menunggunya. Mengingat betapa penting apa yang ingin ia sampaikan
"Bagas mana ya ? Kok jam segini belum nongol juga ? Bukannya kita janjian jam 4 ? Tapi ini udah 30 menit lebih. Tunggu aja deh. Siapa tahu dia ada urusan sama keluarganya." Gadis itu berusaha menenangkan pikirannya
Pukul 17.30
"Udah satu setengah jam aku di sini. Tapi kamu belum juga dateng. Bagas, segitu marahnya kamu sama aku ? Atas kejadian tempo hari ?" Gadis itu mulai menyerah. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi pulang ke rumah.
*****
"Eh, udah jam 17.35 nih. Balik yuk! Gue takut di marahin nyokap gue nih. Duluan yak!" Ujar Aldi berniat mengganti pakaiannya
"Ye, lo bocah. Yaudah, hati-hati di jalan yak!"
Bagas melirik sebentar jam tangannya. Ia merasa ada yang ganjal bila ia melihat jam
"Jam 17.35. Kok kayak ada yang lupa ya ? Tapi apa ?" Gumam Bagas dalam hati
"Hah ?! Jam 17.35 ? Mampus ! Gue lupa ada janji sama Cindai." Bagas merogoh ponsel di saku tasnya. Terlihat sebanyak 15 miss call dan 30 message. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan janji sepenting itu ? Ia mencoba menelfon Cindai. Namun, nihil. Tak ada jawaban apa pun. Bagas mencoba menelfon sekali lagi
"Angkat dong, Ndai. Aku tau kamu marah. Tapi angkat dulu." Bagas tak berhenti mengoceh sendiri
Bagas segera menuju ke parkiran. Berniat menyusul Cindai walaupun ia tau ini sudah sangat terlambat
*****
Sebuah motor telah tiba di sebuah taman yang sepi. Tanpa adanya seseorang yang ia harapkan masih menunggu kedatangannya. Ia menatap bangku di tengah taman itu. Membayangkan gadis itu masih di sana setia menunggunya. Sambil sesekali tersenyum padanya. Namun itu hanya imajinasinya belaka
"Cindai, kamu dimana ? Ayo, dong keluar. Jangan ngumpet terus. Aku kan udah di sini." Ujar Bagas berharap Cindai hanya menipunya
Ia berjalan gontai menuju bangku itu. Mengenang dua kejadian pahit pada dirinya. Tubuhnya rapuh. Sangat rapuh. Tiba - tiba tatapannya tertuju pada sepucuk surat di atas bangku itu. Dengan yakin, ia membuka surat itu
Dear Bagas,
Maafin aku ya gak bisa nunggu kedatanganmu lebih lama lagi. Aku gak punya waktu banyak. Bukannya aku sibuk. Tapi jam 17.30 aku harus take off. Aku akan pergi ke Jepang. Ada satu hal yang ingin aku selesaikan di sana. Maaf ya aku gak bisa ngasih tau kamu dari jauh hari. Ooh iya, kamu masih penasaran kan apa alasan aku buat nolak lamaran kamu ? Aku akan ngasih tau sama kamu alasannya. Tapi gak sekarang. Temui aku di taman ini, di bangku ini pukul 15.00 tanggal 27 April satu tahun lagi. Jangan ngaret lagi looh  Tunggu aku yaa
With Love,
                                                                          Gloria Chindai Lagio
"Aku bakal tunggu kamu, Ndai. Pasti."
*****
Satu hari sebelum tanggal 27..
Suasana di salah satu rumah sakit terdengar mengharukan. Pasalnya salah satu pasien di sana telah koma selama 5 bulan lamanya. Dan sampai saat ini juga belum ada kemajuan. Harapan untuk hidupnya sangatlah kecil. Isak tangis membanjiri keluarganya. Ribuan doa selalu di panjatkan. Penyakit tumor otak stadium akhir membuat keadaannya semakin memburuk.
"Cindai, bangun dong sayang. Mau sampai kapan kamu tidur terus ? Emang kamu gak sayang sama Mama ? Bangun dong. Mama kangen." Ujar seorang wanita paruh baya terhadap anak perempuannya
Matanya sembab. Terlalu sering menangis. Badannya nampak lebih kurus dari sebelumnya. Sibuk mengkhawatirkan keadaan putri semata wayangnya
"Sabar ya, Ma. Kita udah lakuin yang terbaik buat Cindai. Selanjutnya kita serahin sama yang di atas." Ujar seorang pria paruh baya menenangkan pikiran istrinya
Mama Cindai hanya mengangguk. Ia mengelus lembut kening Cindai. Perlahan ia daratkan kecupan di kening putri semata wayangnya itu.
"Yang kuat ya sayang. Tapi kalo kamu capek, kamu boleh berhenti. Jangan maksain diri kamu. Mama gak tega ngeliat kamu harus berjuang melawan penyakit ini. Mama ikhlas kalo memang kamu harus pergi. Mama sayang kamu." Mama Cindai kembali mendaratkan kecupannya. Dan...
Tit, tit, tit,
Bunyi di layar komputer membuat tangis semakin pecah. Layar komputer menunjukan garis lurus. Menandakan Cindai telah tiada. Ia sudah pergi. Meninggalkan sebuah janjinya dengan Bagas
Sementara orang tua Cindai tidak bisa berbuat apa - apa. Mereka telah memberikan yang terbaik untuk kesembuhan putri mereka. Namun apa daya, takdir berkata lain. Nyatanya Tuhan lebih menyayanginya.
Mereka sudah berjanji. Jikalau Cindai sudah pergi, mereka takkan pulang ke Indonesia. Biarkan mereka mencoba melupakan kenangan manis bersama Cindai. Membiarkan luka itu hilang dengan sendirinya.
******
27 April 2014
"Gak kerasa udah satu tahun aja kamu pergi. Dan akhirnya kita akan bersatu. Tanpa ada halangan lagi. Aku gak sabar ketemu kamu, Ndai." Seroang lelaki tengah sibuk memandang foto gadis pujaan hatinya. Ia tengah bersiap - siap untuk bertemu dengan gadis itu. Setelah setahun tidak berkomunikasi satu sama lain.
"Sekarang masih jam 12.00. 3 jam lagi, Ndai. Biarin deh nunggu 3 jam. Daripada di saat kamu ada, aku gak ada." Bagas mengambil sebucket bunga di atas kasurnya. Menatap penampilannya di cermin. Sambil sesekali membenarkan posisi rambutnya. Beberapa semprot parfrum lengkap memenuhi daftar penampilannya.
"Dilihat - lihat gue ganteng juga ya. Siapa dulu, anak tante Ira." Bagas meraih jaket yang menggantung di gagang pintu kamarnya. Sedikit tergesa menuruni anak tangga rumahnya. Dan dengan sekejap ia sudah pergi menuju taman.

****
"Duh, gak sabar nih. Kenapa gue grogi banget ya ?" Bagas mengambil nafas panjang. Berusaha menutupi rasa groginya
1 jam, 2 jam, 3 jam telah berlalu. Bagas sedikit bosan menunggu Cindai. Ia sempat berfikir untuk meninggalkan tempat duduknya. Namun dengan cepat ia kembali mengurungkan niatnya.
"Apa ? Kamu gak jadi dateng ? Kamu kok jahat banget sih sama aku ? Kenapa baru hubungin aku ? Kamu tau gak aku di sini udah nunggu sampe 5 jam. Tapi kamu baru... Argh ! Terserah kamu deh." Seseorang dengan kerasnya menjawab telfon itu. Nampak kekesalan ada pada dirinya. Terdengar jelas bahwa pasangan itu sedang berada pada ujung tanduk
"Kasihan banget tuh cowok. Udah nunggu lama - lama, eh cewenya gak jadi dateng. Semoga aja gue gak kayak gitu." Bagas berdoa dalam hati. Ia sama sekali tidak ingin nasibnya sama dengan seorang lelaki itu. Ia yakin, Cindai pasti datang
Pukul 16.00
Sudah 4 jam lamanya Bagas menunggu kedatangan Cindai. Dengan setia ia menunggu. Tanpa ada niat untuk berpindah dari tempat itu
"Cindai mana ya ? Kok jam segini belum dateng juga ? Telfon aja deh." Bagas merogoh saku celananya. Berniat mengambil handphone untuk menghubungi Cindai. Namun, nihil. Tak ada jawaban sama sekali dari sang penerima. Pikirannya mulai gelisah. Takut nasibnya sama dengan lelaki tadi. Namun, dengan cepat ia berusaha menghilangkan pikiran negatifnya
"Gak. Bagas lo gak boleh berfikir kayak gitu. Mungkin aja dia lagi di pesawat. Makanya dia gak angkat telfon lo. Ya, sebentar lagi dia pasti ada di sini. Di samping lo." Bagas menenangkan pikirannya
Suara gemuruh terdengar risau. Langit tiba - tiba berubah menjadi gelap pekat. Awan tebal berwarna hitam lengkap menemani. Dan dengan sekejap hujan telah turun. Membasahi dataran di bumi ini.
Sama sekali tak ada niat untuk Bagas pergi berteduh. Atau menyewa payung agar tidak kehujanan. Ia tetap dengan pendiriannya tadi. Ia akan tetap dengan setia menunggu Cindai datang.
"Aku gak bakal pergi, Ndai. Aku bakal terus nunggu kamu."
Pukul 19.00
Langit telah berhenti menangis. Bintang - bintang berkeliaran mengganti kehadiran pelangi seletah hujan.
"Kamu jahat, Ndai. Kamu gak nepatin janji kamu. Mana janji kamu bakal dateng jam 15.00 ? Kamu jahat, Ndai. Kenapa kamu hilang gak ada kabar ? Kenapa kamu buat aku khawatir ? Aku sayang kamu, Ndai. Aku bakal terus nunggu kamu sampai kapan pun." Bagas berjalan gontai menuju rumahnya. Tubuhnya lemas. Tak ada satu pun makanan yang masuk ke perutnya. Badannya panas. Tangannya dingin. Karna kehujanan tadi. Namun, ia tetap memaksa melanjutkan perjalanannya
****
27 April 2064
"Cindai, udah 50 tahun kamu pergi. Dan sampai sekarang aku masih di sini. Aku masih setia menunggumu. Aku akan terus setia menunggu kamu. Sampai kamu datang dan akhirnya kita bersama."

- END -

'Menunggu itu pekerjaan yang paling membosankan di dunia. Kalau ada orang yang bela-belain nunggu cuman buat kamu, kenapa di sia-siain ?' - Menunggu

Yeay!! Itu sad ending kan ? Iya, bagi gua itu sad ending. Alhamdulillah, baru selang sehari cerbung tamat. Udah langsung post cerpen. Thanks yang udah baca :)

@pidaidaa

Sabtu, 05 Juli 2014

Diam - Diam Suka part 20

"Duh, Sal kok gue serasa nyesek ya pas tau Bagas sama Chelsea pelukan." Kode Cindai

"Laah, lo gimana sih, Ndai. Kan lo sendiri yang bilang kalo lo sama Bagas juga gak ada hubungan apa-apa kan ? Kenapa harus nyesek coba ? Aneh deh lo."

'Percuma gue cerita ke lo. Orang lo-nya aja lagi gak connect. Serba salah deh gue'

"Oy, kok lo bengong sih Ndai ?" Salsha mengibas-ngibaskan tangganya di hadapan Cindai

"Eh, ngga kok. Gue gak papa. Cuman lagi ada masalah kecil aja kok. Paling entaran juga kelar." Elak Cindai

"Hei, boleh gabung gak ?" Tanya seorang lelaki yang langsung duduk di sebelah Cindai

"Eh, Sal. Gue duluan yaa." Cindai langsung beranjak dari duduknya

Cindai terus mempercepat langkahnya. Sementara seorang lelaki di belakangnya tak henti-hentinya meneriaki namanya. Lelaki itu terus berusaha mensejajarkan langkahnya.

'Hap'

Akhirnya pergelangan Cindai berhasil diraih olehnya. Bagas. Lelaki itu tengah mencengkram dengan kuat pergelangan Cindai. Takut gadis itu memberontak dan malah pergi bertambah jauh.

"Hey, kamu kenapa sih ?" Bagas memegang kedua pipi Cindai.

Sejak kapan mereka menggunakan logat bahasa aku-kamu ? Ooh, tidak itu hanya keputusan sepihak dari Bagas. Cindai memutarkan bola matanya.

"Hey, coba kamu tatap mata aku. Apa salah aku ?"

'Salah lo banyak, Gas. Kenapa beberapa hari yang lalu, lo pelukan sama Chelsea. Ya, gue tau kita gak ada hubungan apa-apa. Tapi entah kenapa hati gue sakit, Gas.'

"Beberapa hari belakangan ini, kamu berubah. Kamu selalu aja jauhin aku, cuekin aku, bahkan kita udah jarang banget komunikasi. Atau bahkan gak pernah. Aku salah apa sama kamu ? Please, aku mohon sama kamu. Jangan giniin aku lebih lama lagi. Aku gak bisa. Aku lebih baik mati daripada dicuekin sama kamu terus. Aku gak kuat."

Bagas mendekap paksa tubuh Cindai. Menenggelamkan kepala gadis itu di dada bidangnya. Cindai berusaha berontak. Tapi apa daya, tenaga Bagas jauh lebih kuat dari pada Cindai

"Lo jahat, Gas! Lo jahat! Lo gak pernah mikirin gimana perasaan gue. Lo selalu bikin hati gue sakit. Kenapa, Gas ? Kenapa harus gue yang ngerasain semua ini ? Dari sekian ribu gadis yang lo kenal, kenapa harus lo pilih gue ? Apa lo dendam sama gue ?"
Cindai terus menangis di dekapan Bagas

Bagas melepas pelukannya. Perlahan kedua ibu jarinya menghapus air mata Cindai.

"Gue tau gue salah. Tapi gue sama sekali gak tau dimana letak kesalahan gue."

Cindai memegang telapak tangan Bagas yang berada di pipinya

"Beberapa hari yang lalu, Salsha ngeliat lo sama Chelsea pelukan. Entah kenapa hati gue sakit saat ngedenger hot news abal-abal dari Salsha. Yaudah, dari sana gue tarik kesimpulan kalo lo sama Chelsea balikan. Dan akhirnya gue ngejauh dari lo. Gue gak mau terbang terlalu tinggi. Sejak saat itu, gue berusaha buat manas-manasin lo. Tapi lo sama sekali gak merasa cemburu dengan kedekatan gue sama Aldi. Please, jangan beri gue harapan palsu, Gas." Ujar Cindai sesenggukan

"Ooh jadi gara-gara itu kamu marah sama aku ? Haha.." Bagas tertawa terbahak-bahak

Cindai yang melihat itu hanya bisa mendegus sebal, "Tuh kan, kamu balikan sama Chelsea. Udah, jangan ganggu hidup aku lagi. Aku gak mau orang ngira aku perusak hubungan orang."

"Jadian ? Iya, Chelsea emang jadian. Tapi, gak sama aku. Dia jadian sama Karel." Jelas Bagas

Alis Cindai terangkat, "Karel ? Ketua osis itu ?"

"Iya, dia cuman bilang makasih sama aku. Katanya gara-gara aku dia berubah. Padahal aku yakin dia berubah karena emang hati kecilnya yang nyuruh." Bagas merangkul Cindai. Mengajak gadis itu berjalan-jalan sebentar sebelum bel masuk kedua berbunyi

"Jadi, ceritanya aku salah paham sama kamu ?"

"Iya. Kamu tuh gak seharusnya cemburu sama Chelsea. Karena aku sama dia udah kayak adik kakak. Ya masa, kamu cemburu sama adik ipar sendiri ? Kan gak lucu."

"Ih, adik ipar ? Laah, emang kita ada hubungan apa ? Salah dong. Harusnya bukan adik ipar. Tapi..."

"Tapi apa ?"

"Calon adik ipar!"

Cindai langsung berlari sekencang-kencangnya. Takut Bagas tau kalo sekarang dirinya sedang blushing. Sementara Bagas, dia hanya tersenyum nakal seraya mengejar Cindai.

****

14 Februari 2018

"Ndai, kamu ikut kan entar malam ?" Tanya Bagas

"Nanti malam emang mau kemana ?" Tanya Cindai balik"

"Aduh, chubby. Masa kamu lupa sih ? Sekolah kita kan ngadain prom night. Yaudah, pokoknya kamu dandan yang cantik. Entar aku jemput di rumah jam 7." Bagas mengecup kening Cindai lembut. Sebelum ia berlalu meninggalkan Cindai di kelas.

Malam pun berganti. Bintang - bintang tengah berkeliaran di langit. Menemani sang rembulan yang sendirian di langit.

Seorang gadis tengah bersiap-siap untuk acara Prom Night yang di selenggarakan sekolahnya. Sesekali ia membenarkan tatanan rambutnya yang terlihat berantakan.

'Tinn'

Dengan langkah tergesa gadis ini melangkah menuruni anak tangga rumahnya. Setelah pamit kepada orang tuanya, gadis ini pun melangkah keluar

"Hei, udah siap ?" Bagas memberikan uluran tangannya. Menyambut gadis ini bak putri raja

"Udah dong." Jawab gadis ini mantap. Lalu melangkah menuju sisi kiri mobil Bagas

Mobil Bagas pun telah menuju ke acara Prom Night berlangsung. Hening. Selama perjalanan tak ada satu pun dari keduannya. Bahkan degupan jantung Cindai dapat terdengar jelas di telinga Bagas

"Gak usah grogi juga kali. Btw, kamu cantik banget malam ini." Ujar Bagas.

"Makasih." Cindai tersenyum

"Okee, udah sampai. Tunggu sebentar ya tuan putri."

Bagas melangkah keluar. Hendak membukakan pintu untuk Cindai. Sungguh, lelaki ini benar-benar memperlakukan Cindai bak putri raja

Mereka berdua memasuki pelataran Prom Night. Berbagai pasang mata tersentak melihat penampilan keduanya. Ada yang iri, ada yang ikut senang, dan masih banyak lagi.

"Cindai, kamu mau gak dansa sama aku ?"

"Hah ? Dansa ? Aku gak bisa dansa." Ujar Cindai

"Gak papa. Sini aku ajarin. Tangan kamu di leher aku. Nah, udah gitu kaki kita tinggal ke kanan dan ke kiri. Gampang kan ?" Ujar Bagas sambil mempraktekan gerakan dansa pada Cindai. Sementara tangan Bagas memegang pinggang Cindai yang ramping.

Mereka pun mulai berdansa. Cindai juga terlihat sudah mahir berdansa. Walaupun pada awalnya, sempat menginjak kaki Bagas beberapa kali

"Eh, aku ke toilet dulu yaa." Pamit Bagas. Cindai mengangguk

Cindai mencari-cari sosok sahabat karibnya. Salsha. Ya, Cindai tengah sibuk mencari-cari sosok Salsha

"Test."

Tiba-tiba ia mendengar suara orang yang sangat ia kenali. Bagas. Lelaki itu kini tengah berada di atas panggung. Entah apa yang sedang ia lakukan.

"Mohon maaf apabila gue ganggu kenyamanan kalian. Tapi gue cuman pengen jujur perasaan gue sama cewek yang gue sukai." Ujar Bagas

"Dia udah berhasil ngerubah hidup gue. Emang dulu kita sempet jadian, tapi besoknya kita langsung putus. Miris emang. Tapi kali ini gue mau nembak dia buat yang kedua kalinya. Gloria Chindai Lagio, would you like to stand with me here ?"

"Cieee."

Seisi pesta bersorak dan bertepuk tangan. Cindai tersenyum malu. Perlahan namun pasti ia melangkahkan kakinya menuju ke atas panggung

"Gue suka sama lo, Cindai. Dan gue janji, lo cuman yang terakhir. Kalo ditanya kenapa ? Gue gak bisa jawab pertanyaan itu. Karena cinta emang gak tau kapan dia datang dan gak tau kenapa alasannya. Yang jelas, gue cinta banget sama lo. Dan gue rasa itu udah lebih cukup untuk jadi alasan gue ke lo"

Bagas berjongkok di hadapan Cindai. Mengeluarkan kotak kecil berbentuk merah hati dari sakunya.

"Gloria Chindai Lagio, apakah lo mau jadi yang terakhir di hidup gue ?"

Cindai terdiam. Bingung dengan pikirannya. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Mukanya sangat menampakan kalo ia sedang frustasi. Apa yang harus ia pilih ?

"Gloria Chindai Lagio, apa lo mau jadi pacar gue ?" Bagas mengulang perkataannya. Mengingat tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Cindai

"Gue gak bisa." Ujar Cindai

"Yeahhh !! Sukurin lo, Gas. Cindai itu punya gue." Teriak salah satu lelaki di belakang sana. Aldi. Tanpa merasa malu, ia bersorak seperti itu. Yang langsung dibuahi ribuan pasang tatap mata oleh peserta prom night

"Gak bisa nolak maksudnya." Ujar Cindai langsung tersenyum

Lalu Bagas pun menyematkan cincin dengan ukiran BRDS - GCL di jari manis Cindai. Kemudian lelaki itu langsung memeluk tubuh ramping Cindai.

~ TAMAT ~

'Cinta itu gak butuh alasan kenapa, mengapa, dan kapan. Karena cinta hanya datang dengan sendirinya. Jadi, enjoy aja' ~ Diam - Diam Suka

@pidaidaa

Huaaa, akhirnya cerbungnya selesai juga. Padahal gua pikir kagak bakalan selesai. Bangganya {} :') Makasih buat kalian yang selalu baca dan nantiin cerbung gaje ini. Makasih banget. Luph yu :* {} Nantikan cerbung / cerpen gua selanjutnya yaaa ;)

Kamis, 03 Juli 2014

Diam - Diam Suka part 19

"Anjir, badan gue lemes banget Sha. Udah tadi tuh gue begadag gara-gara gue gak bisa tidur keinget Bagas terus. Dan, lo tau apa ? Gue baru berhasil tidur jam 3 pagi. Gila kan ? Dan hasilnya, gue telat bangun. Yang biasanya gue bangun jam 5, ini bangun jam setengah 7. Yang biasanya jam setengah 7 itu gua berangkat, eh ini malah baru bangun. Habis itu gue belum sarapan lagi." Oceh Cindai

"Duh, kasian banget sih sahabat gue. Yaudah, gue mau ke kantin nih. Lo mau nitip ?" Tawar Salsha

"Hah ? Serius lo ? Tumben baik._. Biasanya kan..."

"Biasanya apa ?"

"Hehe, biasanya.. tetep baik lah. Jelas. Yaudah, gue nitip roti aja yaa."

"Yaudah, lo tinggu di sini aja yaa."

Akhirnya Salsha pun melangkah menuju kantin. Di tengah perjalanan, ia melihat Bagas yang sedang berpelukan dengan Chelsea. Ia merasa Cindai harus tau kejadian ini. Jadi, ia cepat-cepat menemui Cindai di kelas. Meninggalkan pesanan gadis itu.

*****

"Bagas, setelah lo tinggalin gue. Gue mulai sadar akan sikap gue yang buruk banget. Sikap yang selalu nindas orang, selalu hina orang, dan akhirnya gue sadar. Gue gak bisa terus-terusan kayak gini. Gue gak mau orang-orang jauhin gue cuman gara-gara sikap gue. Berhari-hari gue berusaha untuk merubah sikap. Gue tau ini bukan soal yang mudah dan pasti membutuhkan waktu yang lama. Bahkan gak sedikit orang yang balik nindas gue gara-gara sikap gue yang berubah ke dia. Tapi untungnya, ada seorang cowo yang setia sama gue. Dia gak peduli dengan sikap gue yang dulu dan sekarang. Gue aja bingung kenapa gue gak pernah menyadari kalo orang itu selalu di dekat gue. Akhirnya, kita mulai dekat. Dan sampai saat ini gue sama dia udah pacaran. Gue seneng banget jadian sama dia. Dia selalu bisa sabar dengan sikap gue yang terkadang kasar sama dia. Yang jelas gue tau dia jauh lebih baik daripada lo. Dia Karel. Lo tau kan ? Ketua OSIS kita ? Dan tujuan gue ke sini adalah, gue mau bilang makasih sama lo. Berkat lo, gue bisa ngerubah sikap gue dan nemuin cowo sebaik Karel. Makasih, Gas. Gue utang budi sama lo."

Tanpa basa-basi, Chelsea langsung menabrakan tubuhnya dengan Bagas. Perlahan tangan Bagas mulai bergerak mengelus punggung gadis dipelukannya ini.

"Lo gak seharusnya berterima kasih sama gue. Karena lo berubah emang bukan karena gue atau siapa pun. Gue yakin lo berubah emang karena hati kecil lo yang minta." Bagas mengusap pelan puncak kepala Chelsea
Chelsea tersenyum simpul, " Sekali lagi makasih, Gas." Bagas mengangguk

"Ooh ya, gimana hubungan lo sama Cindai ?"

"Hah ? Hubungan ? Gue gak ada apa-apa lagi sama dia."

"Udah deh, lo gak usah sok muna. Emang lo kira gue gak tau apa. Gue itu udah kenal lo lama, Gas. Ya, masa gerak-gerik lo aja gue gak tau. Gue tau kali kalo lo itu suka sama dia. Ya kan ? Ngaku aja deh lo." Chelsea tersenyum riang

"Apaan sih lo. Udah ah, gue ke kelas ya." Bagas beranjak dari tempat duduknya

"Kalo lo jadian untuk ke-2 kalinya, jangan lupa PJ-nya yaaa. Harus double looh." Teriak Chelsea. Karena Bagas sudah berjalan cukup jauh. Bagas hanya terkekeh mendengar ucapan Chelsea

****

"Salsha lama banget sih. Gimana coba kalo gue mati kelaparan ? Dia pasti bakal kangen sama gue. Duh, ya tuhan ini laper banget." Dumel Cindai tak henti-hentinya

"Ndai, gila gue punya hot news. Lo tau apa itu ?" Ujar Salsha ngos-ngosan

"Apaan ?" Ujar Cindai lemas

"Bagas sama Chelsea pelukan!!"

'Degh'

Seketika Cindai terdiam. Nafasnya memburu. Jantungnya serasa akan copot. Hatinya serasa disayat oleh ribuan pisau. Cindai masih terdiam. Menghiraukan omongan Salsha

"Cindai, oy! Lo kenapa ?" Salsha mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan Cindai

"Aah, gak papa kok."

"Apa jangan-jangan lo cemburu ya sama Chelsea ? Cieee :3" Goda Salsha

"Apaan sih, Sha. Gaklah. Gak mungkin gue cemburu. Orang gue sama Bagas aja gak ada apa-apa." Elak Cindai

"Ooh, jadi gak cemburu nih ?" Goda Salsha sekali lagi

"Nggak. Ooh, ya. Mana pesanan gue ? Jangan bilang, lo belum beli cuman gara-gara lo mentingin hot news abal-abal versi lo itu ?Aduh, Salsha. Lo gila kali ya ? Sahabat lo hampir sekarat tau gak ?"

"Ya, maaf, Ndai. Iya, iya gue berangkat lagi deh. Harus dua kali jalan deh." Dumel Salsha seraya melangkah kembali

'Kenapa gue ngerasa nyesek ya ? Laah, kan emang bener. Gue sama Bagas gak ada hubungan apa-apa. Terus kenapa gue nyesek ? Toh, kalo pun Bagas sama Chelsea jadian. Harusnya gue senenglah. Mereka kan udah klop banget. Arsh, gue bingung.'

*****

"Emang bener-bener apes hari ini. Udah terlambat, tadi gue kelaperan gara-gara belum sarapan dan sekarang gak ada satu pun angkot yang lewat. Gila, ini udah jam berapa. Ini udah melebihi sore. Kalo gue nyampe malem di sini, bisa-bisa besok gue masuk koran. Gara-gara jadi korban. Gue jalan aja deh."

TINN

"Ndai, bareng yuk!"

Suara itu sangat familiar bagi Cindai. Suara seseorang yang tadi siang hampir membuat air matanya turun. Bagas. Lelaki itu sekarang sudah berada di samping Cindai. Tersenyum ramah sambil mengulang perkataannya tadi.

"Eh, itu, eh, eee..." Cindai gelagapan menjawab. Ia mencari cari alasan untuk menolak ajakan Bagas

"Cindai bareng gue. Kita udah ada janji."

Tiba-tiba muncul seorang lelaki di samping Bagas. Lelaki membuka sedikit kaca mobilnya. Untunglah, ada Aldi. Berkat dia, kini Cindai bisa bernafas lega

"Ooh iya. Gue lupa. Gue ada janji sama Aldi. Sorry ya, Gas." Cindai tersenyum tipis seraya berjalan menuju sisi kiri mobil Aldi

"Ooh, iya gak papa. Namanya janji, gak enak dong kalo dilanggar. Btw, have fun yaa."

"Thanks. Kita duluan ya, Gas."

*****
"Fyuhh, sekali lagi thanks ya, Di. Untung ada lo. Gak kebayang deh gue, kalo gak ada lo." Untuk kesekian kalinya Cindai menucapkan terima kasih pada Aldi

"Haha, santai aja kali. Ooh ya, kalo gue boleh tau. Kenapa sih kok lo tumben banget nolak ajakan Bagas. Biasanya kan lo sama dia kayak sumpit. Gak bisa di pisahin."

"Gue juga gak tau, Di. Seolah gue pengen ngejauh dari dia. Gue gak mau terbang terlalu tinggi."

"Ooh, mau gak lo nemenin gue makan ? Please, mau ya."

"Okee, tapi jangan lama-lama yaaa."

*****

"Aldi lo mau gue suapin gak ? Nih, aaa."

Belum sempat Aldi menjawab, Cindai langsung memasukan sendok ke mulut Aldi. Entah apa yang sedang ia lakukan. Seperti sedang memanas-manasi seseorang

"Enak gak ? Enak dong siapa dulu yang nyuapin." Cindai bergelayut manja pada lengan Aldi

Tak lama kemudian seorang lelaki yang mengintai mereka dari jauh. Pergi meninggalkan caffe.

Cindai menatap punggung lelaki itu yang semakin lama semakin menjauh. Hatinya merasa sangat bersalah. Meyakinkan diri bahwa tindakannya ini benar.

'Sorry, Gas. Ini yang terbaik buat kita berdua'

bersambung

Haha, sekian bulan gua ngilang gak ada kabar ternyata masih ada nyali untuk nongol. Padahal perkiraan gua, ini bakal di next sehabis lebaran. *eeh._. Haha :D

@pidaidaa